1MENURUTMU APA ARTINYA ALLAH MENGASIHI DUNIA? - 43063264 julianaervinahaloho julianaervinahaloho 20.08.2021 Bahasa lain Sekolah Dasar Sebagai Pemimpin Dan Menjaga Apa Yang Telah Allah Beri Kepada. Kita.. Penjelasan: Semoga Bermanfaat. Jadikan Yang Tercerdas Yaa Makasih. oh ok FgcHA. ALLAH MENGASIHI DUNIA Betapa itu adalah hal yang ajaib! “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini.” Ada tiga kata bahasa Yunani untuk dunia. Yang pertama adalah “ge” Kata geografi berasal dari kata ini. “Ge” adalah kata Yunani yang berhubungan dengan dunia dalam pengertian sesungguhnya, yaitu tanah atau substansi dari dunia ini. Yang kedua adalah oikoumene. Kata Oikoumene mengacu kepada dunia sebagai tempat untuk didiami. Dan yang ketiga adalah kosmos. Ini berhubungan dengan ciptaan Allah yang begitu indah dan teratur. Kata kosmetik’ berasal dari kata ini yang berarti cantik atau indah. Dan kata kosmos’ inilah yang digunakan dalam ayat ini “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia kosmos ini,” atau karya Tuhan yang terbaik, terindah ini. Namun segala sesuatu yang kita lihat dalam dunia ini mengingkari kasih dan kehadiran Allah. Allah nampak begitu terpisah dari alam semesta ciptaan-Nya. Ketika badai dan berbagai bencana melanda sepertinya Tuhan begitu jauh. Cerita-cerita perang dan penumpahan darah serta pembunuhan, terorisme dan berbagai penyakit yang secara universal dialami manusia dan akhirnya kematian – Bagaimana di dalam kasih Allah melihat semua itu sementara Ia memisahkan diri darinya? Bagaimana mungkin Allah melakukan itu dan kemudian berkata mengasihi dunia ini? Hanya dengan kehadiran Roh Kudus kita dapat memahami kasih-Nya terhadap alam semesta atau dunia yang telah jatuh dan terhilang ini. Apakah Anda tahu –Pernahkah Anda mendengar pujian yang indah ini, “Kasih Allah”? Apakah Anda tahu dari mana asalnya lagu itu? Ada orang gila yang meninggal di rumah sakit jiwa. Dan ketika mereka mengangkat tubuhnya yang terkubur sampah di tempat pembuangan sampah, pada tembok di selnya, di rumah sakit jiwa itu tertulis syair ini Kasih Allah amat besar Dan tak dapat dilukiskan Lebih tinggi dari bintang Lebih dalam dari lautan Walau dengan dawat selaut Langit dijadikan kertas Batang pohon sebagai pena Dan tiap orang penulis Tak mungkin akan menuliskan Kasih Allah yang besar Langit dari timur ke barat Tak akanmemuatnya Kasih-Nya Hu tak terduga Betapa kayanya Tetap dinyanyikan malak Dan saleh-salehnya SUMBER Tidak terasa kita sudah masuk di bulan Desember, sebentar lagi kita akan merayakan Natal, hari kelahiran Juruselamat dan Tuhan kita Yesus Kristus. Allah begitu mengasihi kita sehingga Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal yang paling dikasihi untuk membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Natal berbicara tentang kasih Allah, kasih yang begitu besar bahkan melebihi ekspektasi lihat firman Tuhan dari 1 Timotius 111 11yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku. Di sini dikatakan bahwa Paulus dipercayakan Injil dari Allah, yaitu Allah yang mulia dan maha bahagia. Allah adalah Allah yang maha bahagia. Pertanyaannya, bagaimana dunia memandang Allah? Bagaimana kita memandang Allah? Allah mau setiap kali kita membaca Injil, mendengar Injil, kita akan menemukan dan mendapatkan Allah adalah Allah yang maha sebabnya, kalau diantara kita ada pelayan Tuhan, pendeta, pengkhotbah, penginjil, mulai beritakan Injil, stop berdebat, stop bertengkar tentang hypergospel, tentang hypergrace, tetapi mulai beritakan Injil dan lihat hasilnya, lihat bagaimana dunia ini dapat diselamatkan. Iblis mau supaya kita saling berdebat, saling bertengkar, Iblis mau kita tetap melihat Allah sebagai Allah yang cepat marah, Allah yang cepat murka, Allah yang cepat memberikan penghukuman, Allah yang cepat menurunkan kutuk. Mari beritakan Injil, di dalam Injil kita dapat melihat bahwa Allah adalah Allah yang maha bahagia. Dunia tidak bisa mengerti akan hal ini, Allah terlalu besar untuk dimengerti, sedangkan pengertian kita sangat terbatas. Tetapi ada sesuatu di dalam Alkitab yang harus dimengerti yaitu tentang knowledge of God, pengenalan akan Allah. Pengetahuan yang tertinggi yang bisa kita miliki adalah knowledge of God, pengenalan akan 923-24 23Beginilah firman TUHAN “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, 24tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Di sini sangat jelas sekali Yeremia mengatakan pengetahuan yang tertinggi yang dapat kita miliki adalah pemahaman dan pengenalan akan Allah, kita bisa bermegah di dalam pemahaman dan pengenalan akan Allah. Dan satu-satunya Pribadi yang mengenal Allah secara utuh adalah Yesus Kristus. Yesus mengenal betul siapa Bapa-Nya, hati Bapa-Nya, dan kebenaran-Nya. Ada dua aspek dari pengenalan akan Allah yang Yesus miliki, dimana manusia tidak mungkin memilikinya, aspek yang pertama Yesus tahu betul secara utuh melebihi dari siapapun, lebih dari manusia manapun, lebih dari malaikat manapun yaitu tentang kasih dan hati Bapa-Nya. Ini yang pertama yang harus kita miliki tentang pengenalan akan Allah, hati-Nya dan kasih-Nya. Aspek yang kedua, Yesus adalah satu-satu Pribadi yang tahu betul secara utuh tentang kebenaran-Nya Allah. Seringkali manusia mengukur kebenaran Allah berdasarkan ukuran, level dan standarnya manusia. Kebenaran Allah harus diukur berdasarkan ukuran, level dan standarnya Allah. Di satu sisi, Yesus mau dunia ini tahu bahwa Bapa-Nya adalah Allah yang sangat mengasihi mereka. Tetapi di sisi yang lain ada kebenaran Allah, dan ini sangat sensitif buat Allah. Banyak orang berkata, “Saya bukan orang jahat, saya tidak sama seperti teroris yang suka membunuh orang.” Pertanyaannya, apakah kita pernah membenci orang dan kita berharap sesuatu yang buruk terjadi sama orang itu? Menurut ukuran, level dan standar kebenaran Allah, kita sudah membunuh. “Saya tidak pernah tidur sama orang lain”, pertanyaannya, apakah kita pernah melihat kemudian menginginkan di dalam pikiran kita, di mana orang lain tidak pernah tahu apa yang kita pikirkan? Menurut ukuran, level dan standar kebenaran Allah kalau kita melihat kemudian menginginkannya sesungguhnya kita sudah berzinah. Membenci sama dengan membunuh, melihat kemudian menginginkan sama dengan berzinah. Itu sebabnya Yesus mau supaya semua orang menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang mampu, karena ukuran, level dan standar kebenaran Allah begitu tinggi, dan supaya semua orang juga menyadari bahwa mereka tidak sanggup menyelamatkan diri mereka dan butuh Juruselamat. Begitu juga dengan pengampunan, manusia berpikir hanya sedikit dosanya yang diampuni, itu sebabnya Yesus berkata, “Sedikit diampuni sedikit mengasihi, banyak diampuni banyak mengasihi.” Manusia mengukur dosanya berdasarkan level, ukuran, standar dan kesadaran manusia. Waktu manusia menyadari berbuat dosa, maka manusia mengakui, “Saya berbuat dosa”, lalu bagaimana dengan dosa yang diperbuat yang tidak disadari, maka manusia tidak akan mengakui kalau manusia berbuat dosa. “Saya tidak bersalah, saya tidak melakukan yang jahat, saya hanya membela diri. Saya hanya membenci, bukan membunuh. Saya hanya lihat, tidak berzinah.” Itu sebabnya di dalam perjanjian lama, kalau kita lihat korban penebus salah, di situ dikatakan, “Apabila seseorang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa, tidak sengaja, maka orang tersebut tetap harus membawa korban penebus salah.” Tetapi yang menjadi pertanyaan, bagaimana orang tersebut bisa membawa korban penebus salah kalau dia tidak menyadari sudah berbuat dosa. Masih ingat cerita tentang raja Daud? Ketika terjadi tiga tahun kelaparan, Daud tidak mengerti kenapa tahun demi tahun terjadi kelaparan, kemudian Daud bertanya kepada Tuhan,”Tuhan apa yang terjadi?” Daud bingung, kenapa terjadi tiga tahun kelaparan, ada apa, apa yang terjadi? Tuhan menjawab Daud, “Semuanya ini tejadi karena pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon.” Kita harus mengerti semuanya ini bisa diselesaikan, bisa ditebus dengan kematian seseorang, karena mereka hidup di bawah hukum Taurat, semua tuntutan harus dipenuhi, semua keadilan harus dipuaskan, mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah. Daud memberikan ketujuh anak Saul kepada orang-orang Gibeon, kemudian orang-orang Gibeon menggantung ketujuh anak-anak Saul di atas bukit, di hadapan Tuhan. Selama tiga tahun tidak ada hujan. Setelah mereka digantung, air tercurah dari langit, Allah mengabulkan doa mereka. Jadi tanahnya sudah ditebus. Pertanyaannya, kenapa mereka digantung? Semuanya ini merupakan gambaran tentang Tuhan Yesus. Ketika Yesus curahkan darah-Nya di atas kayu salib, darah Yesus adalah darah yang qualified untuk menghapus semua dosa dan menebus kita dari kutuk. Kalau saja Yesus tidak mati di atas kayu salib, misalnya dihukum mati dengan cara dilempari dengan batu, tetapi kenapa Yesus digantung di atas kayu salib? Hukuman mati di atas kayu salib pada zaman Yesus adalah hukuman mati yang tidak lazim, karena hukuman mati yang berlaku pada zaman Yesus adalah dengan dilempari batu. Kenapa Yesus mati di atas kayu salib? Alkitab mengatakan, “Yesus telah menebus kita dari kutub hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita sebab ada tertulis terkutuklah orang yang tergantung di atas kayu salib.” Waktu Yesus mencurahkan darah-Nya, darah-Nya menghapus semua dosa kita. Bagaimana dengan kutuknya? Itu sebabnya Yesus digantung di atas kayu salib, Yesus tergantung di atas kayu salib menggantikan posisi kita menjadi terkutuk, untuk menebus kita dari Yesus mengenal betul siapa Bapa-Nya, mengenal betul hati Bapa-Nya dan kasih Bapa-Nya, di sisi yang lain Yesus mengenal betul standar keadilan, kekudusan dan kebenaran Bapa-Nya, sempurna. Yesus dari sorga datang ke dalam dunia ini untuk mengekspresikan kasih dan hati Bapa-Nya dan untuk memenuhi standard kebenaran dan kekudusan dari Bapa-NyaYesus datang ke dalam dunia ini menjadi manusia sama seperti kita, mati di atas kayu salib, kematian-Nya memenuhi semua tuntutan kebenaran dan kekudusan Allah buat kita, supaya hari ini kita dibebaskan dari segala kutuk dan hidup di dalam berkat Tuhan. Luar biasa Yesus kita perhatikan baik-baik di dalam Lukas 14, waktu Yesus ada di tengah-tengah orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti Yesus, Yesus berkata kepada mereka, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang berduyun-duyun mengikuti Yesus, tentang bagaimana caranya menjadi murid Yesus, kenapa? Karena mereka hanya memandang Yesus sebagai guru. Di pasal berikutnya, Lukas 151 1Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Di sini dikatakan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Kenapa dikatakan orang-orang berdosa? Karena mereka datang kepada Yesus bukan melihat Yesus sebagai guru, tetapi mereka datang kepada Yesus melihat Yesus sebagai Juruselamat. Mereka datang kepada Yesus karena ada sesuatu yang mereka lihat dari Yesus, mereka datang bukan untuk belajar, mereka datang untuk dikasihi dan untuk diselamatkan. Kalau ada di antara kita yang merasa orang berdosa, jangan pernah ragu untuk datang kepada Yesus, untuk itulah Yesus datang ke dalam dunia ini. Ayat 2 2Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata tentang Yesus, Yesus menerima orang-orang berdosa. Bahkan mereka menjuluki Yesus sebagai sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Pertanyaannya, apakah Yesus kompromi dengan standar kekudusan-Nya? Tidak! Adakah orang yang lebih kudus dari Yesus? Tidak ada!Kalau kita salah mengartikan semuanya ini, maka kita sudah kehilangan esensi Injil tentang Allah yang maha bahagia. Apa yang membuat Yesus bahagia? Ketika Yesus melihat orang-orang berdosa datang kepada Yesus, mereka membutuhkan Yesus. Yesus melihat kebutuhan mereka. Mereka butuh diselamatkan. Yesus datang ke dalam dunia ini untuk dimanfaatkan, diandalkan. Kalau orang tidak memanfaatkan dan tidak mengandalkan Yesus, maka mereka akan memanfaatkan dan mengandalkan kekuatan mereka sendiri, mereka akan memanfaatkan dan mengandalkan hikmat, logika dan intelektual mereka sendiri. Yesus mau agar kita memanfaatkan dan mengandalkan Yesus. Kalau kita pelajari baik-baik di dalam Alkitab, setiap orang yang datang kepada Yesus, memanfaatkan dan mengandalkan Yesus, contohnya perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun, ketika perempuan ini menjamah jumbai jubah-Nya Yesus, pendarahan dua belas tahun langsung sembuh, Yesus berkata, “Hai perempuan, besar imanmu, wow! Yesus suka! He loves it. Yohanes 116 16Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia. Di sini dikatakan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” Tetapi dari cara orang Kristen berbicara, dari cara orang Kristen berpikir, menunjukkan bahwa mereka hanya menerima dari sebagian kecil dari kepenuhan-Nya Yesus. Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia. Dengan kata lain, ketika kasih karunia Tuhan datang di dalam hidup kita secara terus menerus. berpikir setelah saudara menerima kasih karunia Tuhan selanjutnya tidak akan ada kasih karunia Tuhan yang lain yang akan datang dalam kehidupan kita. Kasih karunia demi karunia karunia, grace upon grace upon grace. Bayangkan, kita keluar dari rumah, lalu kita memiliki kesadaran bahwa kasih karunia demi kasih karunia akan datang sepanjang hari ini. Ketika kita menghadapi pencobaan, ada kasih karunia Tuhan di dalam pencobaan. Ketika kita menghadapi tantangan, ada kasih karunia Tuhan di dalam tantangan yang kita hadapi. Kita harus memiliki kesadaran akan hal ini. Hei, kita akan menerima kasih karunia demi 3-4 3Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka 4”Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Yesus berpaling kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, Yesus begitu bahagia ada di tengah-tengah mereka, Yesus mengatakan sebuah perumpamaan Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? “Sampai ia menemukannya.” Banyak orang berkata, “Saya menemukan Yesus, bukan!” Yesus yang menemukan kita, kita yang terhilang, bukan Yesus yang terhilang. Kita yang terhilang, menangis, kesepian, stres, miskin, kelaparan, kehausan, tidak ada seorang pun yang peduli dengan ada seorang gembala yang baik, Dia tinggalkan yang sembilan puluh sembilan hanya untuk mencari satu yang hilang, tidak ada gembala yang seperti ini, hanya Yesus yang mau melakukan ini buat kita. Saya mau kasih tahu sama saudara, Yesus akan menemukan saudara. Apapun keberadaan saudara hari ini, Yesus tetap mengasihi saudara. Yesus pergi mencari yang hilang sampai Ia 5 5Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira. Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkan di atas bahunya dengan gembira. Kalau kita menjadi gembalanya, waktu kita menemukan domba yang hilang, mungkin kita akan pukul dombanya, bikin susah, kerjain orang aja. Tetapi lihat sikapnya Yesus! Kalau Ia telah menemukannya, Ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira. Ini yang orang Cina harus tahu, ini yang orang Amerika harus tahu, ini yang orang Eropa harus tahu, ini yang dunia harus tahu Injil, kabar baik dari Allah yang maha bahagia. Dalam pasal yang sama, perumpamaan berikutnya yaitu perumpamaan tentang anak yang hilang, setelah anaknya menghabiskan harta bapanya, waktu anak yang hilang ini kembali ke rumah, tidak ada satu pun perkataan yang keluar dari mulut bapanya tentang apa yang hilang, justru bapanya memberikan lebih kepada anak ini. Bapanya bersukacita karena anaknya telah kembali. Allah kita, nama-Nya Yesus adalah Allah yang maha bahagia. Kita tidak pernah menyangka bahwa Allah kita seperti ini. Tidak ada seorang pun yang menyangka. Allah mengasihi kita di luar ekspektasi kita. Di dalam Injil, orang tua membawa anaknya datang kepada Yesus, supaya Yesus menumpangkan tangan di atas kepala anak-anak mereka. Yesus bukan hanya menumpangkan tangan, Yesus malahan memeluk mereka. Yesus selalu memberi melebihi ekspektasi kita. Yesus tidak menjawab doa-doa kita. Yesus menjawab jauh melebihi doa-doa kita. Allah kita adalah Allah yang maha bahagia, ini yang harus diberitakan. Tetapi banyak orang yang berkata, “Kita harus beritakan tentang pertobatan.” Kembali ke perumpanaan anak yang hilang, waktu anak ini mau pulang ke rumah bapanya, apa yang ada di dalam pikiran anak yang hilang ini? “Betapa banyaknya orang upahan di rumah bapaku yang berlimpah-limpah makanannya.” Jadi anak ini pulang awalnya karena lapar. Anak ini pulang ekspektasinya hanya makanan. Tetapi apa yang anak ini terima? Dia menerima ciuman. Anak ini berharap makanan, tetapi anak ini terima pelukan. Anak ini berpikir hanya mau menjadi hamba bapanya, tetapi bapanya memberikan anak ini cincin dan mengembalikan kedudukannya. Bagaimana anak ini bertobat? Anak ini bertobat setelah melihat kasih dari bapanya. Bertobat artinya change your mind. Tadinya anak ini berpikir bapanya akan marah, tetapi setelah anak ini pulang pikirannya berubah, karena anak ini melihat bapanya bersukacita dan berbahagia. Ini yang namanya dulu kita berpikir Allah adalah Allah yang cepat murka, tetapi hari ini kita mendengar dan melihat Allah adalah Allah yang maha bahagia. Ini yang namanya pertobatan. Apapun keberadaanmu hari ini, Allah bukan Allah yang cepat murka, Allah kita adalah Allah yang maha bahagia. Allah akan memberikan kepada kita melebihi apa yang kita pikirkan. Mengasihi dan mencintai lebih umum dikaitkan dengan perasaan. Jika saya mengasihi seseorang, itu berarti saya mempunyai perasaan cinta terhadapnya. Apa tindakan saya terhadap yang saya kasihi? Saya mengusahakan kesenangannya dan menjauhkannya dari segala kesulitan dan penderitaan. Namun, pandangan seperti ini, karena tidak lengkap, dapat merugikan objek kasih orang yang menghidupinya, karena kasih semacam ini memungkinkan kasih yang merusak, kasih yang memanjakan, dan kasih yang tidak mendidik. Apa yang dapat kita pelajari dari kasih Allah?Sedikit jalan memutar perlu diambil sebelum tema utama artikel ini diperjelas. Jika lawan dari kasih adalah kebencian, kita dapat memahami dulu perihal kebencian, baru menarik keparalelan antara kebencian dan kasih. Di dalam Khobah di Bukit, Yesus memberikan penafsiran yang Tuhan inginkan terhadap hukum-hukum Taurat. Salah satunya adalah larangan telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Mat. 521-22Jika kita memahami aplikasi hukum keenam ini dari praktik luarnya, yaitu secara fisik menghabisi nyawa seseorang, kita kurang memahami secara radikal. Perintah itu, alih-alih hanya merujuk pada “perbuatan tangan”, ditujukan kepada “perbuatan hati”. Jika tidak, kita tidak akan dapat mengerti mengapa di bagian lain dari perintah Tuhan di Taurat Musa diatur tentang hukuman mati. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa perintah itu bermaksud bahwa kita tidak boleh membenci orang lain. Kebencian bersifat merusak, menihilkan, atau meniadakan. Kebencian terhadap seseorang menimbulkan keinginan supaya orang tersebut “pergi”, “enyah”, “menjauh”, atau ekstremnya “menghilang”. Jika dibiarkan sampai kematangannya, ia akan berbuah kita memahami cinta kasih jika diparalelkan dengan kebencian? Mari kita melihat buah dari kasih Allah kepada manusia di dalam ayat begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yoh. 316Jika tindakan dari dari kebencian adalah perusakan, penihilan, dan pembunuhan, buah dari kasih adalah perhatian, perawatan, pembangunan, dan pemberian hidup. Dalam konteks dialog antara Yesus dan Nikodemus dalam Yohanes 3, kasih berkaitan dengan pembaruan dan pembangunan hidup untuk menjadi manusia yang penuh dan demikian, selain tentang perasaan, mengasihi orang lain juga adalah mengusahakan kehidupan yang lebih penuh. Dalam kerangka ini, kasih yang memanja dan merusak menjadi tidak dapat dipahami. Itu bukanlah kasih yang alkitabiah. Pewujudan kasih di dalam Alkitab dapat berupa mengarahkan orang yang dikasihi ke jalan yang benar, mengembangkan potensi manusianya, dan mengiringi jalannya untuk menjadi semakin mirip dengan Kristus. Dalam kerangka ini pula, kita dapat memahami apa itu mengkritik dan menegur dalam Amanat Agung harus dipahami di dalam kerangka Perintah Agung. Kita harus pergi menjadikan segala bangsa murid Kristus bukan supaya orang Kristen mendapatkan nama besar karena menjadi warga mayoritas. Kita menginjili karena perintah Tuhan untuk menyebarkan kasih-Nya, dan dengan begitu memperkenalkan kehidupan yang baru dan sejati kepada orang berdosa yang sedang di bawah kuasa kematian. Marilah kita belajar mengasihi dengan benar!7 Juli 2016 Dari Kehidupan Lorenzo Snow Sesaat setelah Lorenzo Snow dibaptis dan dikukuhkan di Kirtland, Ohio, sejumlah Orang Suci Zaman Akhir, termasuk beberapa pemimpin Gereja, berpaling melawan Nabi Joseph Smith. Menurut Lorenzo Snow, kemurtadan ini dikompori oleh spekulasi, atau, dengan perkataan lain, risiko bisnis yang tidak lazim dengan harapan menjadi kaya dengan cepat. Dibutakan oleh hasrat untuk hal-hal sementara dari dunia, orang-orang berpaling dari berkat-berkat kekal dari Injil. Kira-kira 50 tahun kemudian, Presiden Snow, yang melayani sebagai Presiden Kuorum Dua Belas Rasul, berbicara kepada sekelompok Orang Suci Zaman Akhir di Logan, Utah. Dia memberi tahu mereka tentang kemalangan yang telah dia saksikan di Kirtland dan memperingatkan mereka bahwa mereka akan segera mengalami pencobaan yang serupa. “Ada yang dengan cepatnya datang sesuatu yang akan mencobai Anda, barangkali sebagaimana belum pernah Anda dicobai sebelumnya,” katanya. “Meskipun demikian, yang perlu kita lakukan sekarang adalah melihat di mana letaknya kesalahan dan kelemahan kita, jika kita memilikinya. Jika kita telah tidak setia di waktu yang lalu, marilah kita memperbarui perjanjian-perjanjian kita dengan Allah dan memutuskan, melalui puasa dan doa, agar kita akan memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita, agar Roh dari Yang Mahakuasa boleh berdiam di atas diri kita, agar barangkali kita boleh lolos dari godaan-godaan yang sangat kuat itu yang menghampiri. Awan mengumpulkan kekelaman. Anda lihat apa akibatnya di Kirtland dari semangat spekulasi ini. Oleh karena itu, terimalah peringatan.”1 Karena peringatan Presiden Snow terus berlaku bagi para Orang Suci Zaman Akhir dewasa ini, banyak dari khotbahnya kepada para Orang Suci di Logan disertakan dalam bab ini. Dia berkata, “Barangkali beberapa kata perihal kondisi kita pada waktu itu [di Kirtland] mungkin terbukti bermanfaat bagi kita di masa mendatang—mungkin memberikan kita beberapa pelajaran yang berguna”2 [lihat saran 1 pada halaman 296]. Ajaran-Ajaran Lorenzo Snow Ketika orang memperkenankan keduniawian merasuki pikiran dan hati mereka, mereka memalingkan diri dari asas-asas kekal. Saya ingat dengan amat jelas masa susah yang dialami di Kirtland …, di mana Nabi Allah bertempat tinggal, di mana Allah Sendiri, bahkan Yesus, Putra Allah, menampakkan dan memperlihatkan Diri-Nya dalam kemuliaan-Nya. Dia berdiri di atas sandaran mimbar Bait Suci, yang dibangun melalui perintah. Ada di bawah kaki-Nya suatu hamparan berupa emas murni, dengan warna seperti batu ambar. Rambutnya putih bagaikan salju murni. Air muka-Nya bersinar bagaikan matahari dalam kekuatannya. Suaranya bagaikan bunyi deru air [lihat A&P 110]. Pernyataan yang mengagumkan ini terjadi di dalam bait suci yang telah dibangun untuk kehormatan-Nya. Saya berada di Kirtland pada waktu itu, di mana kami melewati peristiwa-peristiwa yang, terkadang saya pikir, kita sekarang mulai ulangi. Keadaan yang mengelilingi para Orang Suci Zaman Akhir pada waktu itu adalah yang jenisnya tidak lazim; setidaknya, dampaknya pada umat adalah yang karakternya tidak lazim .… Pada waktu itu semangat spekulasi merasuki pikiran orang-orang dari bangsa ini. Ada spekulasi uang, spekulasi bank, spekulasi dalam pertanahan, spekulasi dalam lahan-lahan kota, spekulasi dalam banyak bidang lainnya. Semangat spekulasi itu merebak di seluruh dunia, dan menyapu hati para Orang Suci bagaikan ombak yang besar atau arus deras yang menderu, dan banyak yang jatuh, serta menjadi Sebagian dari mereka [para Orang Suci di Kirtland] mulai berspekulasi; mereka melupakan agama mereka, mereka melupakan asas-asas yang telah diungkapkan kepada mereka, dan banyak dari mereka jatuh ke dalam semangat waktu itu dan terbawa pergi pada spekulasi. Kesulitan muncul—rasa iri serta pertikaian—dan Tuhan, merasa tidak senang kepada mereka, membawa kehancuran ke tengah-tengah mereka dan mereka hancur berkeping-keping sebagai sebuah Tepat sebelum kemurtadan besar ini Tuhan telah mencurahkan berkat-berkat yang mengagumkan ke atas umat tersebut. Karunia-karunia Injil telah dicurahkan sampai pada tingkat yang luar biasa—kekayaan kekekalan. Para malaikat telah mengunjungi mereka. Putra Allah, seperti yang saya katakan sebelumnya, telah berbicara dengan para hamba-Nya. Pada pendedikasian Bait Suci berkat-berkat yang umat tersebut terima adalah menakjubkan. Selama waktu berlimpahnya kemurahan hati Allah itu saya, saya sendiri, menghadiri berbagai pertemuan yang diadakan di Bait Suci. Kami mengadakan pertemuan doa, serta pertemuan kesaksian, dan kesaksian-kesaksian seperti yang para brother dan sister dapat berikan adalah mengagumkan. Mereka bernubuat, mereka berbicara dalam bahasa-bahasa, dan memiliki penafsiran bahasa-bahasa sampai pada tingkat yang luar biasa. Berkat-berkat ini hampir menyeluruh pada umat di Kirtland. Hati mereka pada waktu itu berbakti; mereka merasa seakan-akan mereka dapat mengurbankan apa pun yang mereka miliki. Mereka merasa bahwa mereka hampir berdiam di hadirat Allah, dan adalah alami bahwa mereka memiliki perasaan itu di bawah pengaruh yang menakjubkan seperti itu. Semua berkat ini, dan banyak lainnya yang tak ada waktu untuk saya terperinci, dinikmati oleh para Orang Suci Zaman Akhir tepat sebelum waktu ketika semangat spekulasi ini mulai merasuki hati orang-orang. Orang akan membayangkan bahwa setelah menerima pernyataan-pernyataan yang mengagumkan ini tidak ada godaan yang dapat menumbangkan para Orang Suci. Tetapi begitulah adanya, dan itu mencerai-beraikan mereka, seakan-akan, ke empat penjuru mata angin. Betapa pun ganjil tampaknya, semangat spekulasi ini merasuki kuorum Dua Belas Rasul dan kuorum Tujuh Presiden dari Tujuh Puluh; sesungguhnya, tidak ada sebuah kuorum pun di Gereja yang sedikit banyak tidak tersentuh oleh semangat spekulasi ini. Sewaktu semangat itu meningkat, perpecahan mengikuti. Para brother dan sister mulai memfitnah dan bertengkar satu sama lain, karena kepentingan mereka tidak berada dalam keselarasan. Akankah demikian kasusnya dengan para Orang Suci Zaman Akhir yang kepadanya sekarang saya sedang berbicara? Saya takut itu akan datang, tetapi sejauh apa itu akan memengaruhi Anda, itu bukanlah saya yang harus mengatakannya. Anda akan memperoleh pengalaman tersebut, bagaimanapun juga; dan barangkali adalah sangat perlu bahwa Anda mengalaminya. … Setengah kuorum Rasul, pada masa Kirtland, jatuh di bawah pengaruh jahat ini. Itu adalah spekulasi ini, cinta akan emas ini—allah dunia—yang menghasilkan dampak yang mengenaskan ini. Dan jika itu memiliki dampak ini pada diri mereka yang memegang imamat paling tinggi di atas bumi, bagaimana itu akan berdampak kepada kita yang, barangkali, tidak memiliki kecerdasan, informasi dan pengalaman yang mereka miliki? …. Sekarang, Anda adalah umat yang baik .… Allah mengasihi Anda. Dia senang dengan kesalehan Anda, dan Dia tidak ingin melihat peristiwa-peristiwa tersebut dilakoni … yang terjadi di Kirtland. Tidak ada perlunya untuk itu. Kita berpegang dalam tangan kita sendiri kuasa untuk melindungi diri kita sendiri dari hal-hal itu yang memecah belah para Orang Suci di Kirtland dan menumbangkan setengah dari Dua Belas. Tuhan tidak menginginkan agar, pada hari yang telah larut ini, peristiwa-peristiwa ini akan kembali Para Orang Suci Zaman Akhir seharusnya sudah terlalu menguasai kebijakan dan kecerdasan untuk jatuh ke dalam jerat dari jenis ini. Itu tidak ada gunanya. Tidak akan ada gunanya bagi siapa pun untuk berpaling dari asas-asas yang mulia ini dan hal-hal itu yang telah diterima dari dunia-dunia kekal—untuk berpaling menentang hal-hal ini serta bercampur dan membaktikan diri kita sendiri pada hal-hal yang papa dari dunia. Tidak akan ada gunanya bagi kita. Godaan apa pun yang mungkin datang ke atas diri kita atau yang sekarang dipaparkan kepada kita, kita hendaknya mendengarkan sejarah masa lalu dan tidak memperkenankan diri kita untuk terkuasai, atau kita akan sangat menyesalinya6 [lihat saran 2 pada halaman 296]. Kita telah membuat perjanjian untuk memisahkan diri kita dari keduniawian dan membaktikan diri kita pada kerajaan Allah. Allah dunia adalah emas dan perak. Dunia menyembah allah ini. Itu sangatlah kuat bagi mereka, walaupun mereka mungkin tidak bersedia untuk mengakuinya. Sekarang, sudah dirancang, dalam pemeliharaan Allah, bahwa para Orang Suci Zaman Akhir hendaknya memperlihatkan apakah mereka sudah sedemikian majunya dalam pengetahuan, dalam kebijaksanaan dan dalam kuasa Allah sehingga mereka tidak dapat dikuasai oleh allah dunia. Kita harus tiba pada titik itu. Kita juga harus meraih standar yang lain, dataran yang lebih tinggi kita harus mengasihi Allah lebih daripada kita mengasihi dunia, lebih daripada kita mengasihi emas atau perak, dan mengasihi sesama kita seperti diri kita Jika kita … gagal menaati perjanjian-perjanjian yang telah kita buat, yaitu, menggunakan waktu, bakat dan kemampuan kita untuk membangun kerajaan Allah di atas bumi, bagaimana kita dapat secara pantas mengharapkan untuk tampil pada fajar kebangkitan pertama, diidentifikasikan dengan pekerjaan penebusan yang besar? Jika kita, dengan cara, kebiasaan dan urusan kita, meniru … dunia, dengan demikian mengidentifikasikan diri kita sendiri dengan dunia, apakah menurut Anda, para brother, bahwa Allah akan melimpahkan ke atas diri kita berkat-berkat yang kita berhasrat untuk warisi? Saya beri tahu Anda tidak, Dia tidak akan! …. Kita mesti membangun diri kita sendiri dalam kesalehan surga dan menanamkan di dalam hati kita kesalehan Allah. Firman Tuhan, melalui Nabi Yeremia, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” [Yeremia 3133]. Ini adalah yang Tuhan ikhtiarkan untuk lakukan, dan ini akan Dia capai dalam diri kita jika kita menyepadankan diri dengan Saya berterima kasih kepada Allah bahwa pada masa-masa kebusukan dan kejahatan ini di dunia, kita memiliki para pria dan wanita yang kudus dan saleh yang dapat mengabdikan bakat-bakat unggul itu yang telah Allah limpahkan ke atas diri mereka untuk pujian dan kemuliaan-Nya. Dan saya boleh mengatakan lebih jauh, bahwa ada ribuan pria dan wanita yang bajik dan terhormat, yang telah Tuhan kumpulkan dari bangsa-bangsa, yang juga bersedia untuk membaktikan waktu dan bakat mereka untuk membantu dalam menunaikan pekerjaan Allah untuk kepentingan anak-anak-Nya9 [lihat saran 3 pada halaman 296]. Kita mengikuti teladan Juruselamat ketika kita menolak untuk menukar kemuliaan kekekalan dengan kekayaan dunia. Anda mungkin mengharapkan … untuk menghadapi hambatan-hambatan di jalan kehidupan, yang akan menguji sepenuhnya resolusi Anda yang terbaik, dan sebagian dari Anda mungkin tergoda untuk membelok dari jalan kebenaran dan kehormatan, dan, seperti Esau, merasa ingin melepaskan kemuliaan kekekalan untuk beberapa saat berupa kepuasan dan kesenangan [lihat Kejadian 2529–34]; maka … raihlah kesempatan Anda untuk meniru teladan Juruselamat kita ketika ditawari kemuliaan dunia ini, jika Dia ingin merendah untuk suatu tindakan kebodohan; Dia menjawab kepada penggoda-Nya, “Enyahlah dari-Ku, Setan!” [lihat Lukas 45–8].10 Saya menemukan saat memikirkan tentang kehidupan, bahwa dunia ini singkat dibandingkan dengan kekekalan; bahwa kecerdasan kita, keilahian di dalam diri kita, selalu telah ada, tidak pernah diciptakan, dan akan selalu ada sepanjang segala kekekalan [lihat A&P 9329]. Mempertimbangkan kenyataan-kenyataan ini, adalah patut bagi kita sebagai makhluk yang cerdas, untuk menyadari bahwa kehidupan ini berakhir dalam beberapa hari, kemudian datanglah kehidupan yang kekal; dan sebanding dengan seberapa baiknya kita telah menaati perintah-perintah, kita memiliki keuntungan terhadap mereka yang gagal untuk melakukan perbaikan Injil mengikat bersama hati dari semua penganutnya, itu tidak menciptakan perbedaan, itu tidak mengenal perbedaan antara yang kaya dan yang miskin; kita semua terikat bagaikan satu individu untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan ke atas diri kita .… Sekarang, biarlah saya mengajukan pertanyaan ini Siapakah yang memiliki apa pun, siapakah yang dapat benar-benar dan sungguh-sungguh menyebut apa pun dari benda-benda dunia ini adalah miliknya sendiri? Saya tidak menuntut demikian, saya hanyalah petugas pengawasan atas sedikit saja, dan kepada Allah saya dianggap bertanggung jawab atas penggunaan dan pelepasannya. Para Orang Suci Zaman Akhir telah menerima hukum Injil melalui wahyu-wahyu dari Allah, dan itu secara demikian gamblangnya dituliskan agar semua orang dapat paham. Dan jika kita mengerti serta memahami kedudukan yang kita ambil dalam menerimanya ketika kita masuk ke dalam perjanjiannya melalui pembaptisan untuk pengampunan akan dosa-dosa, kita harus tetap sadar akan kenyataan bahwa hukum itu menuntut kita untuk mengupayakan terlebih dahulu kerajaan Allah, dan bahwa waktu, bakat serta kemampuan kita haruslah dijadikan tunduk pada kepentingannya [lihat Matius 633; 3 Nefi 1333]. Jika tidak demikian adanya, bagaimana kita dapat mengharapkan setelah ini, ketika bumi ini akan telah dijadikan tempat kediaman Allah dan Putra-Nya, untuk mewarisi kehidupan kekal serta untuk hidup dan memerintah bersama-Nya? Siapa yang akan mengatakan bahwa yang kaya, atau mereka yang memiliki banyak bakat, memiliki harapan atau prospek apa pun yang lebih baik untuk mewarisi berkat-berkat ini daripada yang miskin, atau mereka yang memiliki hanya satu bakat? Sebagaimana saya memahaminya, orang yang bekerja di toko, apakah sebagai penjahit, tukang kayu, pembuat sepatu atau dalam departemen industri lain apa pun, dan yang hidup menurut hukum Injil, dan yang jujur serta setia dalam pemanggilannya, orang itu sama memenuhi syaratnya untuk menerima hal-hal ini dan semua berkat dari Perjanjian yang Baru dan Abadi seperti orang lain siapa pun; melalui kesetiaannya dia akan memiliki takhta, pemerintahan dan kuasa, anak-anaknya akan menjadi sebanyak bintang-bintang di cakrawala atau pasir di tepi laut. Siapa, saya bertanya, yang memiliki harapan apa pun yang lebih besar daripada ini?12 [lihat saran 3 dan 4 di bawah dan di halaman 297]. Saran untuk Penelaahan dan Pengajaran Pertimbangkan gagasan-gagasan ini sewaktu Anda menelaah bab ini atau sewaktu Anda bersiap untuk mengajar. Untuk bantuan tambahan, lihat halaman vii–x. Pertimbangkan laporan pada halaman 289–290. Apakah kiranya tentang keduniawian yang menuntun orang-orang untuk melupakan agama mereka? Bagaimana kita dapat mengurus kebutuhan duniawi kita tanpa menjadi terkuasai oleh keduniawian? Renungkan bagian yang dimulai pada halaman 290. Bagaimana kasih kita bagi Allah dapat menolong kita menghindari menjadi terkuasai oleh keduniawian? Presiden Snow mengajarkan bahwa kita telah membuat perjanjian untuk “menggunakan waktu, bakat dan kemampuan kita untuk membangun kerajaan Allah di atas bumi” halaman 293. Pikirkan tentang apa yang dapat Anda lakukan untuk menaati perjanjian ini. Kajilah ulang bagian akhir dalam bab ini. Dengan cara apa kebenaran berikut dapat menolong kita menaati perjanjian-perjanjian kita? “Dunia ini singkat dibandingkan dengan kekekalan.” Tak seorang pun dapat “benar-benar dan sungguh-sungguh menyebut apa pun dari benda-benda dunia ini adalah miliknya sendiri.” Tulisan Suci Terkait Matius 619–24; Yohanes 1715; 1 Yohanes 215–17; Yakub 213–19; Mormon 835–39; A&P 3839; 6347–48; 10413–18 Bantuan Pengajaran Pembahasan dalam kelompok-kelompok kecil “memberikan kepada sejumlah besar orang kesempatan berperan serta dalam pelajaran. Orang-orang yang biasanya enggan berperan serta dapat membagikan gagasan dalam kelompok kecil yang tidak akan mereka ungkapkan di depan seluruh kelompok” Mengajar, Tiada Pemanggilan yang Lebih Mulia, 161.

menurutmu apa artinya allah mengasihi dunia